Sebuah Perjalanan Hati di Gunung Semeru

by - 22.49

“A journey is best measured in friends, rather than miles.” – Tim Cahill
Ada yang bilang “Layaknya petualangan, bukan seberapa jauh dan lama kamu menempuh perjalanan, melainkan seberapa asyik dan serunya teman-temanmu dalam perjalananmu itu. Dari sini kamu bisa belajar seperti apa watak dan karakter mereka.”
Seperti perjalanan kami ke Semeru pada waktu itu. Setelah berdoa bersama perjalanan kami menuju Ranu Kumbolo di mulai.
Maaf kualitas fotonya sangat jellek maklum ini ambilny pake kamera hp aja :D
Langkah demi langkah kami lalui dengan perasaan campur aduk, sesekali bercanda, ngecek keadaan hati alias perasaan. Konon katany mendaki itu perjalanan hati, jadi kalau hati kita baik-baik saja, Insha Allah semuanya akan baik-baik saja. Sampai-sampai tiap beberapa menit, kami suka ngecek keadaan hati masing-masing hahhah. “gimana hati aman? Amannnn.. oke lanjutt” seperti itu yang selalu kami ucapkan hahah. OST yang selalu kami nyanyikan sepanjang jalan kenangan itu adalah lagu Ninja Hattori. “mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke Samudra bersama teman bertualangg” begitu seterusnya dan sesekali menyapa dan saling memberi semangat kepada beberapa pendaki yang berpapasan dengan kami.
“ayok mbak semangatt dikit lagi sampee, udah dekat kok”
Kalimat tersebut yang selalu dilontarkan oleh para pendaki yang berpapasan dengan kami. Walupun sebenarnya Ranu Kumbolo masih sangat jauh, tapi kalimat positif tersebut benar-benar memberikan kekuatan untuk kami yang masih pemula ini.
Setelah beberapa jam berjalan, mas Dik merasa dia harus bergegas untuk berjalan lebih dulu agar bisa mengambil tempat yang pas buat pasang tenda nanti, karena ada sangat banyak pendaki yang mendaki pada hari itu. Mas Dik takut kalau kami nggak dapat tempat yang baik. Kami pun mengiyakan dan mas Dik menitipkan kami dengan temannya mas B (sampe hari ini namanya aku belum ingat-ingat juga hahah maap). Waktu itu kalau saya tidak salah ingat mas Dik jalan bareng Lea dan disusul dengan Aldi dan Aas. Jadi rombongan yang paling akhir tersisa mas B dan teman-temannya, mbak isma, saya, Oshyn, Pea, dan Adam. Dan dari sinilah sebuah musibah atau masalah bermula.

Menjelang magrib tiba-tiba Pea tersandung akar pohon yang menyebabkan kakiny keseleo. Pea adalah orang yang paling semangat diantara kami, disepanjang jalan dia tidak pernh berhenti untuk bernyanyi, lari-larian bahkan sampe jingkrak-jingkrak dengan cariernya yang sudah pasti berat. Saya saja heran dan berpikir “nih anak dapat kekuatan dari mana yah??”. Setelah musibah tersebut sempat terlintas dipikiran saya “mungkin ini yang orang tua kami selalu bilang, kalau mau ke daerah orang jangan lupa beri salam dan jangan kajilijili alias berlebihan”. Karena menurut Pea, dia benar-benar tidak melihat ada gundukan akar pohon di jalan tersebut.
sebelum negara api menyerang :D
Setelah musibah tersebut tentu saja langkah kami jadi semakin lambat, karena merasa menjadi penghalang orang-orang yang jalan di belakang kami, kami pun memutuskan agar mereka jalan lebih dulu. Waktu itu mas B dan temannya jalan lebih dulu, yang ada dipikiran saya dia akan menunggu kami di suatu titik setelah semua pendaki lewat. Tapi kenyataannya tidak, yang tersisa hanya saya, pea, adam, oshyn, dan mba Isma. Lima manusia yang sepanjang hidupnya baru melakukan kegiatan yang namany mendaki gunung, Lima manusia yang sama sekali buta jalan. Kalian bisa membayangkan betapaaaaaa keseeellnya kami waktu itu. Dan parahnya semua kekesalan itu, kami lampiaskan ke Adam (so sorry dam :( ), padahal Adam hanya berusaha untuk melindungi kami. Tapi waktu itu rasanya kesel aja sama Adam soalny doi dikit-dikit berhenti balik belakang buat ngecek, jadinya suka tabrakan sama Oshyn. Padahal sudah berkali-kali dibilangin:

Oshyn: (dengan nada pake urat :D) Dam kamu jangan dikit-dikit berhenti dong, tugas kamu cukup jalan aja di depan liat kondisi jalan kalau ada lubang atau jalannya kenapa-kenapa cukup ngomong aja ngak usah dikit-dikit berhenti. Nanti biar aku yang kasih cahaya lampu ke anak-anak dibelakang.

Adam: aku cuman mau ngecek keadaan kalian aja.

Taya: (dengan nada pake urat juga :D) iya Damm tau kamu niatny baik tapi kalau kayak gini kita jalannya jadi makin lambat.

Adam: (ngambek) yah sudah kalau kalian kenapa-kenapa aku nggak mau peduli lagi (tapi ini cuman omongan aja soalnya sepanjang jalan doi tetap ngecek keadaan kami dan pasrah aja diomelin hahaha Dam ohh Adam, maafin kami yang sangat sensi waktu itu :D)

Selain ditinggal, kami pun kekurangan headlamp. Kalau saya tidak salah ingat hanya Adam dan Oshyn yang menggunakan headlamp waktu itu, punya saya dipakai sama siapa aku lupa, dan punya Pea sudah redup dan baterai tidak ada di tas kami. Kurang sialll apa coba ckckck.

Selain itu ada kejadian yang agak horor yang menimpa saya. Waktu itu kami sudah tiba di sebuah tempat yang memiliki jalan yang bercabang, ada yang lurus dan ada yang turun ke bawah. Kami pun berhenti sejenak karena bingung harus lewat mana, mencoba menunggu para pendaki yang lain yang kali aja ada di belakang kami, sambil teriak-teriak manggil nama Mas Dik berharap ada jawaban dari dia. Soalny dikejauhan kami sudah bisa melihat banyak cahaya lampu dari para pendaki yang sudah tiba lebih dulu di Ranu Kumbolo, tapi ternyata teriakan itu sia-sia saja tidak ada jawaban dari mas Dik dan tidak ada satu pun pendaki yang lewat, bisa dibilang kami adalah rombongan terakhir malam itu yang tiba (mungkin). Kami pun memutuskan untuk mengambil jalan lurus, sambil sesekali saya ngecek di belakang saya berharap bisa melihat jejak-jejak pendaki yang akan lewat. Setelah berkali-kali ngecek, tiba-tiba ada satu cowok dibelakang saya dan jarak kami lumayan sangat dekat, saya pun bertanya:

Taya: mas ini jalanny udah benar?

Masnya: *hanya mengangguk saja

Taya: makasih mas

Saya pun memberitahukan ke anak-anak yang lain, bawah jalan yang kami ambil sudah benar, dan kembali melanjutkan perjalanan kami. Kemudian saya balik ke belakang lagi untuk melihat mas yang tadi, tapi ternyata di belakang saya tidak ada siapa-siapa. Dalam hati saya cuman ngomong “wuihh manami itu masnya?? Masa nda adaki dibelakangku?? Siapa are’mi itu tadi ku tanya?”. Saya pun berusaha menepis pikiran negatif itu dan tidak memberitahukan ke yang lain. “di tendapi deh ku ceritakan ini ana-ana” pikirku saat itu.

Tidak lama kemudian kami akhirnya bertemu dengan mas B, yang ternyata menunggu kami di “pintu masuk” Ranu Kumbolo. “ihh apa poeng sampe meki baru ko tunggung ki, bajiki” dalam hati saya ngomel-ngomel sendiri.

Sambil menunggu mas Dik yang mencari kami di Ranu Kumbolo (waktu itu kami sudah tidak sanggup buat mencari mas Dik dan pasrah aja, berharap mas Dik benar-benar mencari kami). Kami pun berbaring bersandarkan tas kami, mencoba mengatur napas, memperbaiki hati, sambil memandang keindahan langit yang bertaburkan bintang di Ranu Kumbolo pada malam itu. Pemandangan yang sangat indah dan hawa yang dingin-dingin manja mampu membuat kami untuk melupakan kekecewaan kami sejenak. (Ahhh akhirnya tiba juga di Ranu Kumbolo, kirainn tadi bakal nyerah di tengah jalan, fiuhhhhh).

Tidak lama kemudian mas Dik berhasil menemukan kami dan menuntun kami ke tempat kami akan tidur dan bergosip pada malam itu. Waktu itu, Aas dan Lea sudah beristirahat terlebih dulu, dan sempat terbangun saat saya masuk ke tenda mereka. Karena sudah sangat lelah saya memutuskun untuk menceritakan semuanya besok pagi kepada mereka. Saya, pea, dan oshyn tidur di tenda yang satunya lagi. Sebelum tidur kami mencoba flash back kejadian yang baru saja kami alami sambil ngomel-ngomel tapi diakhiri dengan lawakan yang receh.

Taya: bisaku tadi di’ bopongki Pea sambil bawa dua tas, dapat kekuatan dari mana are’ka tadi hahah

Oshyn: nda sia-sia ko selalu bonceng Lea sama angkat galon waktu di Pare hahah

Pea: iyo kodong capeknya mi pasti kaka taya.

Taya: we miring ki tanahnya ini tempatnya tenda ta, di pinggir danauki poteng

Pea: jan mamiki kaget kalau besok pagi ada meki mengapung di danau hahahhaa

Lawakan receh itu pun berhasil mengobati “sedikit” sakit hati kami waktu itu, dan berharap besok jadi lebih indah sampai perjalanan kami di Semeru berakhir. Satu hal yang pasti, waktu itu kami sudah bisa sedikit menilai karakter para guide-guide kami, hmmmmm.

Bersambung


xo
tayatumada

You May Also Like

8 komentar

  1. Seru sekali ya perjalanan ke Semeru nya. doakan semoga sy juga ada kesempatan kesana ❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. aminnn kak,, kmerin waktu kesana banyakji jg org tua yang bawa aanaknya,, sapa tw kita jg nant begitu heheh

      Hapus
    2. amiiiin. iya mau sekali bawa alfa kesana. insyaAllah ya semoga ada waktunya

      Hapus
  2. Perjalanan panang bersama-sama, bisa membuka mata orang macam apa yang kita temani yah :D
    BTW saya percaya, di alam seperti itu kita pun harus menjaga lisan. Jadi ingat temanku waktu KKN. Kami harus lewat sungai dan hutan. Seorang temanku bilang, "Aih, ditandu ma ini nanti."

    Tojeng, dia ditandu betulan sama teman2 cowok tapi dalam keadaan kesurupan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Typo: perjalanan panjang

      Hapus
    2. dehh itumi dbilang org tua juga jangan bicara sembarang di hahahha

      Hapus
  3. Saya kebayang itu percakapan diucapkan langsung, hahah.. Serunya itu! Sampe ada mi yang takut pagi-pagi udah mengapung di sungai.

    Btw itu mas di belakangnya Taya yang ditanyain cuman ngangguk aja, mana donk?

    BalasHapus
    Balasan
    1. dehh kak mas mas itumi yang masih jd pertanyaan manusia atw bukan hahaha

      Hapus