Break The Limit at Semeru

by - 16.03

Perjalanan kami menuju Malang waktu itu sama seperti sebelum-sebelumnya, yaitu dengan naik bus Puspa Indah. Bedanya, kali itu kami tidak menunggu di pinggir jalan seperti yang biasa dilakukan. Kami langsung ke Terminal bus tempat bus Puspa Indah mangkal, karena waktu itu barang kami sangat banyak. Rencananya sehabis mendaki Gunung Semeru kami bakal langsung balik ke Makassar, jadi semua barang-barang kami selama tiga bulan tinggal di Pare ikut di angkut ke Malang.

Setibanya di Malang, kami langsung singgah di kostan Dila (teman kami), untuk nitip barang. Sehabis itu kami langsung ke tempat penyewaan peralatan mendaki yang kebetulan tidak jauh dari kostan Dila. Malam itu semua barang-barang yang akan kami bawa untuk mendaki di packing di kostan dila dengan bantuan Febri,Aldi dan Mas Dik “guide kami” (akhirnya udah ingat namanya berkat Aas hehe).

Baca Juga: A Few Weeks Before

Setelah packingan selesai kami langsung pamit sama Dila untuk berangkat ke Tumpang tempat kami akan nginap malam itu. Barang-barang yang tidak dibawa untuk mendaki kami titip di Febri, soalnya pada saat turun gunung nanti Dila sedang keluar kota, jadi semuanya dititip di Febri (thank u loh Feb :D). Waktu itu kami nyewa angkot untuk berangkat ke rumah kerabat mas Dik di daerah Tumpang. Sampai di tempat penginapan kami pun kenalan sama teman-teman mas Dik yang akan ikut mendaki bersama kami, mas A (namanya lupa lagi hehe) dan mbak Isma namanya.

Ke esokan paginya, saya, Isma, Aldi dan mas Dik berangkat ke Pasar Tumpang untuk membeli bahan makanan. Kondisi Pasar Tumpang pagi itu sangat ramai, ada banyak pendaki-pendaki yang berkumpul disana, bahkan satu-satunya alfamart terdekat yang ada di daerah itupun, barang-baranya banyak yang habis. Aku sempat nanya ke Mas Dik:

Taya: Mas ini rame bangett yahh, banyak banget yang mau mendaki

Mas Dik: iya Taya, soalnya ini kali pertama Gunung Semeru kembali dibuka untuk para pendaki setelah beberapa bulan ditutup.

Taya: wahh pasti bakal rame banget yanh nanti di sana mas (mulai agak khawatir)

Setelah berbelanja di Pasar Tumpang, kami pun langsung mencari Alfamart tempat kami janjian dengan yang lainnya untuk beli air minum, cemilan, obat-obatan dan sarapan (kebetulan di samping Alfamartnya ada tenda-tenda warung makan, jadi skalian sarapan di situ). Setelah semuanya selesai, kami kembali ke penginapan untuk siap-siapa berangkat ke Ranu Pani. 

Kira-kira pukul 9/10 waktu setempat kami berangkat ke Ranu Pani dengan menggunakan mobil pick up. Lagi-lagi mobil pick up yah guys bukan mobil jip yang kayak di film 5 cm hahah. Budget nya g cukupp shayyy hahahah. But so far, we enjoyed it very much hahah. Di sepanjang jalan kami disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa Indahnya, Masha Allah. Sesekali kami meminta sama pak sopir untuk mengurangi laju kendaraan hanya untuk menikmati pemandangan di sekitar.

Rasa senang dan degdegan menyelimuti hati kami waktu. Senang karena diberi rezeky kesehatan, kesempatan sama Allah untuk bisa mewujudkan salah satu mimpi kami, dan degdegan karena ini kali pertama bagi kami untuk melakukan kegiatan yang namanya mendaki. Ada banyak kekhawatiran / ketakutan yang saya rasakan waktu itu.  Saya sempat ngomong ke Aas, Lea, Oshyn, dan Pea, kira-kira seperti ini percakapan kami.

Taya: bisa jeki?? Beratnya lagi ini tas ta’ (klo aku tidak salah ingat tas kami waktu itu adalah tas carrier 60 L, soalnya sisa tas yang ada cuman yg itu aja)

Aas: Insha Allah bisa jeki

Lea: iya Insha Allah bisa jeki berdoa meki saja

Oshyn: masa angkat galon saja bisa baru ini tasji na tidak bisaki. Pasti bisa

Aas: klo memang nda bisaki sewa meki saja porter.

Pea: ayo kakak-kakak, semangattki semua (dengan senyum khasnya)
ini masih ngetes berat tas, tp pake tasnya Aldi :D


Rasa khawatir itu pun mulai sedikit berkurang, berkat mereka. Saya yakin, sebenarnya mereka juga merasakan apa yang saya rasakan tapi berusaha dihilangkan dengan pemikiran-pemikiran positif. Berusaha agar si nethink ini tidak menguasai pikiran dan hati mereka. Saya pun sangat bersyukur bisa melakukan perjalanan ini bersama mereka. (Terima kasih ya Allah)

Sampai di Ranu Pani, tempat titik awal para pendaki sudah mulai sangat ramai, bahkan Mesjidnya pun sudah penuh dan harus antri. Sambil menunggu Mas Dik ngantri di Post untuk ijin mendaki dengan membawa berkas-berkas kami, kami pun langsung ke Mesjid untuk Shalat dan berdoa semoga perjalanan kami dimudahkan dan dilancarkan. Sehabis shalat saya dan Aas melihat ada banyak pendaki cewe’ yang hanya membawa tas ransel kecil tidak seperti tas kami. Sempat terpikirkan untuk menyewa porter tapi waktu itu Aldi ngomong:

Taya: Rul liatko tasnya itu cewe ee ransel kecilji

Aas: iyo taya ku liatji juga itu tadi, sewa porter meki?

Taya: kw ji menurutmu bagaimana?

Aas: Aldi sewa porter meki deh

Aldi: jangan mi, pikirki sayang uangnya terus nanti pasti ada hal lain yang bisa kalian ceritakan dari ini. Yakinja pasti bisa jeko semua, kalau nanti pas diperjalanan kalian capek, istirahat meki saja, jalan santai saja, tidak usah buru-buru.

Kami pun tidak jadi untuk menyewa porter dan memutuskan untuk menikmati setiap detik dari perjalanan kami dengan hati riang gembira. Sambil menunggu Mas Dik yang masih ngantri (soalnya antriannya panjang banget, banyak banget yang mau mendaki waktu itu), kami pun mengahabiskan waktu untuk menunggu di warung bakso, makan siang dan sempat tertidur pulas di warung bakso tersebut (kebiasaan dari pesantren terbawa sampai ke Ranu Pani haha “tidur dimana saja” hahah).

Tidak lama kemudian Mas Dik datang dan memanggil kami untuk berkumpul dan berdoa sebelum memulai perjalanan menuju Ranu Kumbolo.
Adam, aku, Pea, Aas, Oshyn, Lea, Aldi (Maaf yah kualitas gambarnya jelek soalny ini fotonya pake camera hp sj hehe)
Bersambung

xo
TayaTumada

You May Also Like

19 komentar

  1. Proud. Bisa naik gunung tanpa porter itu adalah suatu kbanggan sndiri. Krn kita bisa nanjak dengan kekuatan dan kekompakan team

    BalasHapus
  2. Terbayang kalau tas sebesar itu di punggung sambil mendaki. Huaaa...bagaimanami itu beratnya perjalanan di?
    Pasti ada cerita serunya nanti, tunggu mami sambungannya pale.

    BalasHapus
  3. Enaknya masih bisa naik gunung ☺️ ditunggu kak foto pemandangannya 🙏

    BalasHapus
  4. saya menunggu lanjutannya ah sebelum berkomentar banyak. tidak lama lagi kan lanjutannya terbit?

    BalasHapus
  5. Saya belum komentar soal isi tulisannya dulu ya, tapi tertarik untuk komentar soal cara penulisannya.

    Cara penulisannya masih benar-benar gaya bertutur yang kronologikal. Artinya cerita dituturkan dari A sampai Z dengan berurutan persis seperti orang bercerita.

    Tidak salah, tapi kalau mau memperbaiki diri maka bisa belajar untuk eksplorasi gaya bertutur lain yang tidak semata kronologikal tapi mungkin bisa maju-mundur. Tapi yang paling penting belajar untuk membedakan gaya bercerita menulis dan lisan.

    Semangat! Teruslah belajar memperbaiki diri dalam menulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih daengg atass kritik dan sarannnya yangg sanggtt membangun.. :)

      Hapus
  6. Sama seperti komentar Dg.Ipul, saya seperti baca BAP alias Berita Acara Pemeriksaan di kantor polisi, haha...
    Selain itu di akhir cerita menggantung banget endingnya.

    Tapi salut sama semangat menulisnya.
    Terus belajar ya dek, dengan banyak membaca blog kakak-kakak blogger dan bertanya langsung kalo ada yang kurang jelas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak eryvia, makasihh atas sarannyaa..:)
      ini endingnya sengaja di kasih gantung soalny masih ada kelanjutannya hahahah

      Hapus
  7. Dulu awal-awal saya menulis cerita perjalanan persis seperti ini. Sesuai dengan urutan waktu dan berurutan. Namun seiring waktu saya mencoba gaya lain. Tulisan feature misalnya. Memang sedikit butuh usaha namun lambat laun hasil tulisan menjadi tidak terlalu monoton

    BalasHapus
    Balasan
    1. semogaa kelak tulisann saya bisa seperti kak adda, dan saya salah satu org yg suka baca postingannta mungkin pengaruh gaya penulisan yg baik :)

      Hapus
  8. Saya tidak pernah mendaki gunung, sepertinya saya bakalan membaca saja dari cerita cerita yang ada di blog

    Apalahi sekarang cepat mi Poso :)))

    BalasHapus
  9. Seru yang bisa mendaki barengan gitu, kak. Tapi kalau saya diajak mendaki pasti sudah angkat kaki eh angkat tangan duluan karena emang nggak kuat mendaki, mendaki tangga aja masih ngos2an apalagi mendaki gunung😅

    BalasHapus
  10. Jadi teringat dengan kekompakanku sama tmn2 dlu mendaki Bulsar. Oiya trmsuk strong kk dhe mendaki 😊

    BalasHapus
  11. Untuk ukuran cewek mendaki sudah bikin saya kagum, bagaimana tidak. Beratnya medan yang dihadapi terus mesti bawa barang yang berat juga. Kereeeen sekali, saya saja pasti mengeluh mi.

    BalasHapus
  12. Tiap baca cerita pendakian, saya jadi ingin mendaki juga. Huhuhuhu... Keren banget kak, membawa tasnya tanpa bantuan portir.

    BalasHapus
  13. Enaknya tawwa sampe mi ke Semeru, saya cuma sampai ke tetangganya, gunung Bromo haha. Semeru memang keren, tapi berbahaya kalau lagi batuk -__-" *trus jadi ingat Soe Hok Gie :(

    BalasHapus
  14. Saya baca saja cerita pendakian seperti ini na poso duluan ma hahaha anaknya ga bakat Naik gunung, lebih pilih main ke pantai

    BalasHapus
  15. Serunya bisa sampe di semeru, saya cuman sampe gunung bawakareang ji di malino. hehe

    BalasHapus